Saturday, February 21, 2026

Friday, February 20, 2026

20 feb 26 jumat

 



siang jumatan at masjid dapur halal

tokobuah

wrg ayam

index

pul

sore kampus sampah

toko klontong

showba

pul

mlm taraweh at kampus

toko teh

allahuakbar


memori xiluo taiwan


 

Thursday, February 19, 2026

19 feb 26 kamis

 



malam taraweh

allahuakbar

6 basic levels (or categories) of emotion

 



Here are 6 basic levels (or categories) of emotion, often used in psychology as core human emotions:

  1. Happiness
    Feelings of joy, pleasure, contentment, or satisfaction.
    Example: excitement, gratitude, pride.

  2. Sadness
    Feelings of loss, disappointment, or helplessness.
    Example: grief, loneliness, despair.

  3. Anger
    A strong feeling of displeasure or hostility.
    Example: frustration, irritation, rage.

  4. Fear
    An emotional response to threat or danger.
    Example: anxiety, nervousness, terror.

  5. Disgust
    A feeling of aversion or strong dislike.
    Example: revulsion, contempt.

  6. Surprise
    A reaction to something unexpected (can be positive or negative).
    Example: shock, amazement.

These six are commonly associated with the theory of basic emotions proposed by Paul Ekman, who suggested that these emotions are universal across cultures.

memori piknik kampus



 

Content analysis adalah





 Content analysis adalah metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis isi teks, dokumen, media, atau komunikasi secara sistematis dan objektif. Isinya bisa apa saja: artikel berita, buku pelajaran, jurnal, pidato, postingan media sosial, bahkan transkrip wawancara. Intinya, kamu tidak cuma membaca. Kamu mengurai, mengelompokkan, menghitung, dan menafsirkan makna yang muncul dari konten tersebut.

Secara umum, langkah-langkahnya seperti ini:

  1. Menentukan tujuan penelitian
    Mau menganalisis apa? Tema? Nilai moral? Representasi gender? Kompetensi abad 21 dalam kurikulum? Jangan kabur. Fokus.

  2. Menentukan unit analisis
    Bisa berupa kata, kalimat, paragraf, tema, atau dokumen utuh.

  3. Membuat kategori atau coding scheme
    Ini jantungnya. Kamu menentukan kategori yang akan digunakan untuk mengelompokkan data. Bisa berdasarkan teori (deduktif) atau muncul dari data (induktif).

  4. Melakukan coding
    Tandai bagian teks sesuai kategori yang sudah dibuat. Kalau perlu, gunakan tabel atau software seperti NVivo. Jangan asal feeling.

  5. Menganalisis dan menafsirkan hasil
    Bisa kuantitatif (misalnya menghitung frekuensi kemunculan tema) atau kualitatif (mendalami makna dan pola).

Ada dua jenis utama:

  • Content analysis kuantitatif → fokus pada angka dan frekuensi.

  • Content analysis kualitatif → fokus pada makna, pola, dan interpretasi.

Metode ini cocok untuk penelitian pendidikan, komunikasi, media, bahkan kebijakan publik. Kalau kamu sedang meneliti kompetensi guru di era AI, misalnya, kamu bisa menganalisis dokumen kurikulum, kebijakan nasional, atau artikel ilmiah untuk melihat kompetensi apa yang paling sering muncul dan bagaimana framing-nya.

Intinya, content analysis itu bukan sekadar membaca. Itu membaca dengan niat, struktur, dan disiplin.

Dan percayalah, kalau dilakukan dengan benar, ini metode yang sangat kuat. Kalau dilakukan asal-asalan, ya hasilnya seperti gosip akademik.