ce ita kerja mpe sore
allahuakbar
just put any comment on my blog
pagi kampus meeting
siang kampus lagi
balikin kunci
meet fish ngurus serti
index
tokobuah
malam novinda
femi
donut
pom
takoyaki
novinda
allahuakbar
A RCT (Randomized Controlled Trial) is a type of scientific experiment, often used in medicine, psychology, education, or social sciences, that is designed to test the effectiveness of an intervention or treatment while minimizing bias. Let me break it down carefully:
Randomization
Participants are randomly assigned to either the intervention group (receives the treatment) or the control group (receives no treatment, standard treatment, or placebo).
Randomization ensures groups are similar at the start, reducing selection bias.
Control Group
Acts as a baseline to compare outcomes.
Helps determine whether the effect is due to the intervention or other factors.
Blinding (optional but common)
Single-blind: Participants don’t know which group they’re in.
Double-blind: Both participants and researchers don’t know group assignments.
Reduces bias in reporting or measuring outcomes.
Outcome Measurement
Predefined outcomes are measured after the intervention to see if there is a statistically significant difference between groups.
Define the research question and outcomes.
Recruit participants based on inclusion/exclusion criteria.
Randomly assign participants to intervention or control.
Apply the intervention to the experimental group.
Measure the outcomes in both groups.
Analyze data to see if the intervention had a significant effect.
Considered the gold standard for establishing causality.
Helps determine whether a treatment truly works rather than relying on observational correlations.
Widely used in clinical trials, education interventions, and social programs.
Example:
If researchers want to test whether a new teaching method improves reading skills:
Randomization: Randomly assign students to either the new method (intervention) or the usual method (control).
Measure outcome: Test reading skills after 3 months.
Analysis: Compare the two groups to see if the new method caused improvement.
Socratic Method itu metode belajar lewat pertanyaan-pertanyaan kritis—bukan ceramah, bukan langsung kasih jawaban. Intinya: membantu orang “melahirkan” pemahaman sendiri lewat dialog. 🧠✨
Dikembangkan oleh Socrates (filsuf Yunani).
Guru/fasilitator tidak memberi jawaban, tapi menggiring dengan pertanyaan.
Tujuannya: melatih berpikir kritis, reflektif, dan logis.
Berbasis pertanyaan (why, how, what if).
Dialog dua arah (diskusi, bukan monolog).
Menggugat asumsi (apa yang kita anggap benar).
Mendorong penalaran (alasan di balik jawaban).
Reflektif (peserta menyadari cara berpikirnya sendiri).
Topik: Kejujuran
Guru tidak berkata: “Kejujuran itu penting.”
Tapi bertanya:
“Apa yang terjadi jika semua orang berbohong?”
“Apakah berbohong selalu salah? Mengapa?”
“Siapa yang dirugikan ketika kejujuran hilang?”
👉 Dari situ, siswa menyimpulkan sendiri nilai kejujuran.
Melatih critical thinking & argumentasi
Cocok untuk pendidikan moral, filsafat, agama, dan karakter
Siswa jadi aktif, bukan pasif
Butuh waktu lebih lama
Perlu guru yang terampil bertanya
Kurang cocok untuk materi hafalan murni
Socratic Method sangat pas untuk:
Pendidikan moral & nilai (termasuk nilai Islam)
Penguatan kompetensi abad 21
Pembelajaran reflektif di era AI (bukan sekadar “jawaban cepat”)
Socrates adalah filsuf besar Yunani Kuno (±469–399 SM) yang sering dijuluki bapak filsafat Barat. Menariknya, ia tidak pernah menulis buku—pemikirannya kita kenal lewat murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon.
Beberapa poin kunci tentang Socrates:
🧠 Metode Socrates (Socratic Method)
Ia mengajar dengan bertanya, bukan memberi jawaban. Pertanyaan-pertanyaannya menggiring orang untuk berpikir kritis, menyadari asumsi, dan menemukan kebenaran sendiri.
🗣️ “Aku tahu bahwa aku tidak tahu”
Ungkapan terkenal ini menekankan kerendahan hati intelektual—kesadaran bahwa kebijaksanaan dimulai dari mengakui keterbatasan pengetahuan.
⚖️ Etika dan moral
Fokus utama Socrates adalah kebajikan (virtue), keadilan, kebaikan, dan bagaimana manusia seharusnya hidup dengan benar. Baginya, pengetahuan dan kebajikan saling terkait.
🏛️ Pengadilan dan kematian
Ia dihukum mati oleh negara Athena karena dituduh merusak moral pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Socrates memilih meminum racun daripada melarikan diri—sebuah simbol integritas dan ketaatan pada hukum.
Technology Task Fit adalah tingkat kesesuaian antara teknologi yang digunakan dengan tugas/pekerjaan yang harus dilakukan pengguna.
👉 Intinya:
Teknologi akan efektif dan berdampak positif kalau fit (cocok) dengan kebutuhan tugas penggunanya.
Technology Task Fit (TTF) refers to the degree to which a technology assists an individual in performing their tasks effectively.
Biasanya terdiri dari 3 elemen kunci:
Jenis tugas
Kompleksitas tugas
Frekuensi dan tujuan tugas
📌 Contoh (guru SD):
Menyusun RPP
Menilai hasil belajar
Mengelola kelas digital
Fitur teknologi
Kemudahan penggunaan
Keandalan & fleksibilitas
📌 Contoh:
AI untuk penilaian otomatis
LMS (Google Classroom, Moodle)
Aplikasi pembelajaran interaktif
Seberapa sesuai teknologi tersebut untuk menyelesaikan tugas
Apakah teknologi mempermudah, mempercepat, atau meningkatkan kualitas kerja
✔ Menjelaskan kenapa teknologi diterima atau ditolak
✔ Memprediksi kinerja & produktivitas pengguna
✔ Banyak dipakai dalam:
Riset adopsi teknologi
Pendidikan digital
AI in education
Sistem informasi
📘 AI untuk guru SD
Tugas: membuat soal HOTS
Teknologi: AI generator soal
Fit tinggi → guru lebih efisien & kreatif
Fit rendah → teknologi ada, tapi jarang dipakai
TTF sering dikombinasikan dengan:
TAM (Technology Acceptance Model)
UTAUT
TPACK (khusus pendidikan)
The effectiveness of educational technology is strongly influenced by the degree of Technology Task Fit, where alignment between instructional tasks and technological features enhances teachers’ performance and learning outcomes.
Creative Problem Solving adalah proses sistematis yang menggabungkan berpikir divergen (menghasilkan banyak ide) dan berpikir konvergen (memilih solusi terbaik) untuk memecahkan masalah secara kreatif.
Understanding the Problem
Mengidentifikasi masalah yang sebenarnya (bukan cuma gejalanya).
Clarifying the Challenge
Merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan kreatif
👉 contoh: “Bagaimana cara…?”
Generating Ideas
Menghasilkan sebanyak mungkin ide tanpa menghakimi (brainstorming).
Developing Solutions
Menyaring ide, mengembangkan yang paling realistis dan berdampak.
Implementing the Solution
Menerapkan solusi dan mengevaluasi hasilnya.
Masalah:
Siswa SD cepat bosan saat pembelajaran.
CPS:
Masalah inti → metode belajar monoton
Ide kreatif → belajar berbasis game, proyek, cerita, atau STEAM
Solusi → proyek daur ulang, eksperimen sederhana, role play
Implementasi → pembelajaran tematik berbasis proyek
Melatih higher-order thinking skills (HOTS)
Menguatkan kemandirian dan fleksibilitas berpikir
Kompetensi kunci guru & siswa di era AI
Relevan banget dengan profil Pelajar Pancasila
Divergent & convergent thinking
Innovation
Problem-based learning
Design thinking
Metacognition
alhamdulilah bangun pagi
training di ce ita
pul
kampus
sampah
lyona oia
khs
pul
jemput novinda
wrg hotpot baru
pxmart
novinda
allahuakbar