Wednesday, January 28, 2026

Socratic Method




Socratic Method itu metode belajar lewat pertanyaan-pertanyaan kritis—bukan ceramah, bukan langsung kasih jawaban. Intinya: membantu orang “melahirkan” pemahaman sendiri lewat dialog. ๐Ÿง ✨

Intinya singkat

  • Dikembangkan oleh Socrates (filsuf Yunani).

  • Guru/fasilitator tidak memberi jawaban, tapi menggiring dengan pertanyaan.

  • Tujuannya: melatih berpikir kritis, reflektif, dan logis.

Ciri-ciri utama

  1. Berbasis pertanyaan (why, how, what if).

  2. Dialog dua arah (diskusi, bukan monolog).

  3. Menggugat asumsi (apa yang kita anggap benar).

  4. Mendorong penalaran (alasan di balik jawaban).

  5. Reflektif (peserta menyadari cara berpikirnya sendiri).

Contoh sederhana (di kelas)

Topik: Kejujuran
Guru tidak berkata: “Kejujuran itu penting.”
Tapi bertanya:

  • “Apa yang terjadi jika semua orang berbohong?”

  • “Apakah berbohong selalu salah? Mengapa?”

  • “Siapa yang dirugikan ketika kejujuran hilang?”

๐Ÿ‘‰ Dari situ, siswa menyimpulkan sendiri nilai kejujuran.

Kelebihan

  • Melatih critical thinking & argumentasi

  • Cocok untuk pendidikan moral, filsafat, agama, dan karakter

  • Siswa jadi aktif, bukan pasif

Kekurangan

  • Butuh waktu lebih lama

  • Perlu guru yang terampil bertanya

  • Kurang cocok untuk materi hafalan murni

Dalam konteks pendidikan (relevan dengan risetmu ๐Ÿ˜‰)

Socratic Method sangat pas untuk:

  • Pendidikan moral & nilai (termasuk nilai Islam)

  • Penguatan kompetensi abad 21

  • Pembelajaran reflektif di era AI (bukan sekadar “jawaban cepat”)

No comments: