Socratic Method itu metode belajar lewat pertanyaan-pertanyaan kritis—bukan ceramah, bukan langsung kasih jawaban. Intinya: membantu orang “melahirkan” pemahaman sendiri lewat dialog. ๐ง ✨
Intinya singkat
-
Dikembangkan oleh Socrates (filsuf Yunani).
-
Guru/fasilitator tidak memberi jawaban, tapi menggiring dengan pertanyaan.
-
Tujuannya: melatih berpikir kritis, reflektif, dan logis.
Ciri-ciri utama
-
Berbasis pertanyaan (why, how, what if).
-
Dialog dua arah (diskusi, bukan monolog).
-
Menggugat asumsi (apa yang kita anggap benar).
-
Mendorong penalaran (alasan di balik jawaban).
-
Reflektif (peserta menyadari cara berpikirnya sendiri).
Contoh sederhana (di kelas)
Topik: Kejujuran
Guru tidak berkata: “Kejujuran itu penting.”
Tapi bertanya:
-
“Apa yang terjadi jika semua orang berbohong?”
-
“Apakah berbohong selalu salah? Mengapa?”
-
“Siapa yang dirugikan ketika kejujuran hilang?”
๐ Dari situ, siswa menyimpulkan sendiri nilai kejujuran.
Kelebihan
-
Melatih critical thinking & argumentasi
-
Cocok untuk pendidikan moral, filsafat, agama, dan karakter
-
Siswa jadi aktif, bukan pasif
Kekurangan
-
Butuh waktu lebih lama
-
Perlu guru yang terampil bertanya
-
Kurang cocok untuk materi hafalan murni
Dalam konteks pendidikan (relevan dengan risetmu ๐)
Socratic Method sangat pas untuk:
-
Pendidikan moral & nilai (termasuk nilai Islam)
-
Penguatan kompetensi abad 21
-
Pembelajaran reflektif di era AI (bukan sekadar “jawaban cepat”)


No comments:
Post a Comment